Capung Metic Bertenaga Hijet

Pria berambut cepak itu inap di balai belakangan rumah sewa Irwandi Yusuf di Lampriet, Banda Aceh. Rencananya, ingin membicarakan soal helikopter miliknya dan meminta bantuan gubernur. Namun ajudan Irwandi hanya menjawab, “tidak ada anggaran.” Warga Desa Lhee Meunasah, Gampong Aree, Pidie, itu tak lantas menyerah. Berulang kali dalam berbagai kesempatan dia menjelaskan pada sang ajudan, “Saya tidak minta uang tapi minta pembinaan.”

Pembinaan yang diharapkan Syarifuddin M Jamil, pria yang ngotot bertemu Irwandi itu memang ganjil, berkaitan dengan proses pembuatan capung besi. Ia gagal pula meyakinkan sang ajudan bahwa saat ini sedang membuat helikopter. “Ajudannya bilang saya harus buktikan dulu,” kata Syarifuddin ihwal upayanya bertemu orang nomor satu di Aceh.

Syarifuddin M Jamil, pekerja bengkel itu, akhirnya menyerah. Irwandi tak berhasil ditemui. Ironisnya, ia sudah sepekan menanti. Walau begitu ia tak patah arang. Baginya tak ada pilihan selain kembali ke Beureunuen, Pidie, melanjutkan pembuatan helikopter. 

Soal heli, Syarifuddin tak membual. Sejak tiga tahun lalu, dia sudah memulai pembuatannya. Rangkanya telah selesai. Bentuknya menyerupai helikopter jelis PUMA, buatan Amerika. Pria kelahiran 30 tahun silam itu, merakit rangka dari besi yang sering digunakan untuk ranjang.

Heli yang diberi nama Aneuk Glueh ini panjangnya lima meter, lebar 1,20 meter. Dirancang berpenumpang empat orang, tapi pria yang hanya menyelesaikan pendidikan sampai SMP ini mengubahnya hanya berkursi untuk pilot saja. “Saya bawa sendiri sebab orang tidak berani naik,” katanya.

Untuk mengangkat Aneuk Glueh yang memiliki bobot 300 kilogram ini, Syarifuddin memasang sepasang mesin mobil Daihatsu Hijet 1000 bekas yang dibelinya seharga Rp 1,5 juta, persis di bagian belakang ruang pilot. Tapi akibat tak cukup duit, dia baru memasang satu.

Mesin Hijet itulah yang bakal menggerakkan baling-baling ganda. Kelak, kipas gergasi yang terbuat dari fiber, dipasang di ekor dan kepala capung. Di ekor, gerdang yang juga dari mobil bekas, sudah terpacak menanti baling-baling. Syarifuddin, butuh satu gerdang lagi untuk di bagian depan. Dari ruang pilot bagian bawah, telah melintang sebilah besi. Walau tak melingkar, fungsinya persis stiur mobil. Bedanya, arah roda dikendalikan dengan kaki. Untuk mengendalikan baling-baling, dipasang besi vertikal menyerupai tuas. Agar putaran baling-baling bergerak selaras antara depan dan belakang, digunakan rotor di ujung gerdang.

Uniknya pengontrol daya sembur energi yang dimunculkan mesin, digunakan speedo-meter yang biasa digunakan sepeda motor Yamaha. Di ruang kemudi juga telah ada tombol untuk menghidup dan mematikan mesin. “Heli metik, semua difungsikan tidak manual,” kata Syarifuddin tersenyum.

Aneuk Glueh disimpan di bengkel Pasir Murni, Meunasah Baro Yaman, hanya sekitar lima meter dari lintasan Banda Aceh-Medan. Tak jelas kapan rangka itu akan diuji coba. Menurut Syarifuddin, bila semua perlengkapan telah ada, dia hanya butuh waktu sebulan lagi untuk menyelesaikan proyek impiannya itu. Masalahnya, hingga kini ia masih kekurangan satu mesin, gerdang dan baling-baling. Syarifuddin memperkirakan ia masih butuh Rp 10 juta lagi.

Sejauh ini, Aneuk Glueh sama sekali tak tersentuh sedekah siapapun. Untuk menggalang dana, Syarifuddin tak bergerilya di instansi pemerintah dengan segepok proposal. Ia justru memilih ke Malaysia, negara yang diyakini ‘tambang uang’. Tak hanya nekat modalnya, tapi juga kemahiran otak-atik mesin. Untungnya di Stasion Tujuh, Syah Alam, ada warga sekampungnya yang sudah duluan merantau. Di sana ia tak hanya numpang tinggal, tetapi juga bekerja di bengkel selama sebulan. “Di situ gajinya 600 ringit,” kenangnya.

Petualangannya mengumpulkan uang awal tahun 2005, dilanjutkan di kawasan Taman Sara di Sungai Pencala. Lagi-lagi menjadi teknisi bengkel. Lima bulan bekerja di bengkel terakhir, dia kembali ke Aceh. “Saya bawa pulang uang dari Malaysia bersih sekitar Rp 13 juta,” kata Syarifuddin. “Habis semua untuk heli.”

***

MEMBUAT helikopter bertenaga mesin mobil seperti dilakukan Syarifuddin, bukan mimpi siang bolong. Usaha serupa pernah dilakukan mahasiswa Fakultas Fisika Universitas Bayero di Kono, Nigeria, tahun lalu.

Muhammad Abdullahi, 24 tahun, menciptakan helikopter bermesin mobil Honda Civic bekas. Mesin berkuatan 133hp mampu menerbangkan helikopter setinggi dua meter. Muhammad membutuhkan waktu delapan bulan untuk merakit heli sepanjang 12 meter, tinggi 7 meter dan lebar lima meter itu.

Helikopter Muhammad berkapasitas empat penumpang. Kursinya terbilang nyaman, dia memasangkan kursi mobil sedan Toyota. Muhammad sudah menerbangkan heli itu enam kali. Tapi Muhammad sedikit lebih beruntung. Walau tak didukung pemerintah, namun ayahnya yang berprofesi sebagai dosen di universitas yang sama, mendukungnya dengan menyuntik bantuan dana.

Bila Muhammad yang menyusun konsep helinya dengan membaca buku dan berselancar di internet, Syarifuddin justru hanya mengandalkan penglihatan. Ceritanya, pria ini sering melihat helikopter wara-wari di langit Aceh setelah tsunami menerjang. Agar tak hilang di ingatan, ia menggambarkannya di kertas. “Kalau baca buku, saya nol,” kata Syarifuddin. “Kalau suruh terangkan heli ini saya mengerti.”

Niat membuat helikopter sendiri sudah muncul sejak duduk bangku sekolah dasar. Seusia itu, dia telah mencopot mesin mobil mainan. Lalu, dipasangkan di helikopter mainan yang dibuatnya sendiri dari pelepah rumbia.

Tahun 1990, keseriusan Syarifuddin membuat heli sudah terlihat. Walau masih menimba ilmu di bangku sekolah menengah pertama, sepulang sekolah ia bekerja di kilang padi. Uangnya ditabung untuk membeli mesin mobil kijang. Namun, ia tak punya cukup nyali melanjutkan proses pembuatan rangka. “Waktu itu kan DOM (Daerah Operasi Militer), saya takut dituduh macam-macam,” katanya.

Enam tahun kemudian, Syarifuddin kembali membeli mesin mobil bekas. Sayang sejarah berulang, keinginannya terpaksa kembali harus dipendam. Kondisi keamanan menciutkan nyalinya. Mesin mobil yang sudah dibeli terpaksa dijual kembali.

Inilah usahanya yang terakhir. Bagi warga sekitar, Aneuk Glueh merupakan bukti kegilaan Syarifuddin. Warga beranggapan heli itu tidak bakal terbang. Bahkan ia sering mendapat celaan. “Saya sering dibilang gila,” katanya. “Tapi saya jawab, saya memang gila, gila ilmu.”

sumber : www.maimunsaleh.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s