From Bottom To Up !, Sebuah Jalan Klasik Mahasiswa Tanpa Individualisme

“Bagaimana sudah Teknik Mesin ini ?”, inilah kata-kata yang selalu terbawa kedalam pikiran saya, mungkin juga kepada beberapa mahasiswa lain di Jurusan Teknik Mesin Universitas Syiah Kuala yang peka dan pasti menyetui pernyataan saya di awal opini ini.

Melihat dari aktifitas, gerak-gerik, cara berfikir, cara berorganisasi, tingkat kecerdasan invidual, dan beberapa alasan lain yang mungkin terlalu sepele untuk dijadikan alasan, kita mahasiswa teknik mesin saat ini mengalami penurunan secara sangat drastis. Sangat susah menebak apa hal dasar yang menjadi penyebab sehingga kejadiannya bisa seperti hari ini. Uniknya lagi hanya dosen-dosen dan beberapa orang saja yang peka, yang mengerti, yang bisa merasakan bahwa kondisinya sekarang menuju ke arah yang tak diharapkan.

Beberapa dosen yang kerap saya jumpai mengatakan bahwa sudah sangat susah sekarang mengajari para mahasiswa, mungkin ini dikarenakan kurangnya minat belajar mahasiswa saat ini dibandingkan dengan mahasiswa lama, mahasiswa dimana awal Teknik Mesin Unsyiah didirikan. Yang pada intinya mahasiswa era lama menganut sistem belajar kejar dosen sedangkan mahasiswa saat ini menganut sistem sebaliknya.

Saya ingat ketika salah seorang dosen didalam ruang perkuliahan mengatakan jangan berlaku dari up to bottom, tapi berlakulah dari bottom to up. Nah, artinya apa ? tuntutan sebenarnya yang menjadi sebagai tanggung jawab mahasiswa adalah lebih peka dan lebih dewasa terhadap dirinya dan terhadap lingkungan. Yang berperan sebagai bottom disini adalah mahasiswa sedangkan peran up-nya adalah dosen. Up to bottom berarti dosen yang menjadi motor awal dan menggerakkan mahasiswa untuk melakukan sesuatu, inilah yang sangat dilarang. Bottom to up berarti mahasiswa yang menjadi motor penggerak dan dosen yang akan dirangkul bersama untuk kesuksesan sebuah kegiatan yang akan dilakukan, inilah yang selama ini diharapakan, mahasiwa diwajibkan untuk ikut peran serta dalam memberikan ilmu, ide, pengalaman, serta peran positif lainnya.

Mengingat bahwa untuk membangun bangsa adalah tanggung jawab kita bersama yang tak pernah terlepas dari tanggung jawab mahasiswa juga. Saya ingat ketika ada salah seorang adik letting saya yang kebetulan saja waktu itu saya meminta kesediaannya untuk mengikuti suatu event perlombaan mewakili dari Himpunan Mahasiswa Mesin. Saya meminta, “ Dek, mau ngak ikut kegiatan lomba sama BEM Fakultas ?”, dia tak menjawab malah berbalik bertanya ke saya, “eventnya untuk cari juara ya Bang ?”, saya katakan “iya”, “gak mau Bang, ngak mantap !”, lanjutnya lagi. saya kenapa alasannya, dia  menjawab, “saya kurang tertarik kalau eventnya dibuat untuk mencari juara atau pemenang, saya lebih suka kegiatan seperti menulis PKM (Program Kreativitas Mahasiswa), karena karya yang ditulis mahasiswa memberikan dampak langsung bagi masyarakat, abis itu pemenangnya banyak lagi jadi kita bisa menang rame-rame”, sambil sedikit begok saya cuma menjawab, “iya juga ya!’. Percakapan singkat ini sangat membekas dalam pikiran saya, karena saya benar-benar tak menduga kalau jawaban dari tawaran saya jadi berbalik arah 360 derajat itu.

Tapi bukan soal lomba untuk mencari pemenang atau bukan yang akan saya bicarakan disini. Keinginan salah seorang mahasiswa seperti yang saya bicarakan diatas adalah suatu pola pikir yang seharusnya cocok untuk dipikirkan juga oleh mahasiswa yang lain. Perlu satu sikap dimana setiap mahasiswa lebih dewasa dalam memberikan inspirasinya, terlepas dia harus bertanggung jawab dengan studinya dia juga punya tanggung jawab untuk menggerakkan roda bangsa ini kearah yang lebih baik. Singkat kata, mahasiswa harus bisa berfikir bagaimana kita bisa membuat diri kita sendiri dan masyarakat untuk maju kedepan dan tidak begini-begini saja.

Solidaritas kita untuk siapa ?

Solidarity Forever, jangan biarkan tinggal nama

Pada realitanya yang terjadi, rata-rata mahasiswa kurang peduli dengan sekitar atau cuek bebek saja, alhasil keluarlah istilah kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang). Memang tidak ada salahnya bersikap seperti ini, kuliah menimba ilmu, lalu pulang dan belajar yang rajin, dan di akhir semester dapat indeks prestasi yang baik pula. Umumnya mahasiswa yang seperti ini punya kemampuan yang baik dan cerdas, dan menurut saya sangat disayangkan sekali mahasiswa-mahasiswa yang seperti ini lebih memilih sikap berindividualisme ketimbang memperdulikan lingkungan kampusnya, organisasi, atau segala sesuatu yang menurut mereka bersifat tidak memberikan dirinya kontribusi apa-apa. Sungguh sayang, dan sangat-sangat disayangkan.

Padahal menurut hemat saya, mahasiswa-mahasiswa yang cerdas seperti itu punya kapasitas yang lebih baik dalam menyumbangkan ide. Baik itu sebuah ide penelitian untuk program-progam Dikti yang bisa membuatnya mempunyai nilai tambah seperti program PKM, PHBD, dan sebagainya, atau ide-ide cemerlang lainnya yang bisa menjawab kebutuhan masyarakat, dimana ide-ide tersebut tidak bisa difikirkan oleh segelintir orang namun itu tersebut bisa direalisasikan oleh banyak orang melalui lembaga-lembaga organisasi kemahasiswaan. Coba kita bayangkan sekarang seperti apa efek yang timbul jika yang demikian berlaku di mahasiswa kita. Ide yang baik dan dilakukan itu akan sangat berharga bagi masyarakat yang menerimanya jika memang masyarakat tersebut sedang membutuhkannya, apalagi masyarakat menerimanya dari tangan-tangan putra-putri Aceh, buah pikir putra-putri Aceh, dan betapa bangganya mereka. Bayangkan lagi harumnya nama Jurusan, Fakultas, dan Universitas di mata masyarakat, dan juga menjadi tambahan poin di BAN-PT dan Dikti. Belum lagi efek yang dirasakan setelah mahasiswa yang memberikan ide dan teman-temannya yang ikut berperan lainnya rasakan setelah sarjana nanti di mata perusahaan-perusahaan yang akan mewawancarainya, sekalipun otaknya tidak terlalu cerdas untuk menjawab soal tes tingkat tinggi, tapi paling tidak dia bisa menjawab pertanyaan, apa yang telah kamu lakukan selama ini ?. Tentunya ini merupakan nilai tambah yang menjadi sebuah pertimbangan besar bagi perusahaan pewawancara.

Banyak sekali hal yang bisa membuat kita lebih, maju, bangga, atau bahkan popular, kalau saja sebuah ide yang sederhana bisa dilakukan dengan niat yang baik, terorganisir, kompak, dan penuh rasa tanggung jawab. Tentunya perubahan yang berkualitaspun sangat dekat didepan mata. Pikir dan bergeraklah sekarang !.

One thought on “From Bottom To Up !, Sebuah Jalan Klasik Mahasiswa Tanpa Individualisme

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s