Lumpoe Listrek Aceh 2044

BioSolar_

Matahari baru muncul di ufuk timur, Cek Don (50 th), lelaki yang  selalu berkopiah haji itu, baru selesai ngecas baterai truk intercooler-nya. Dilihatnya kalender di dashboard, Agustus 2044. Ah.., musim panen tebu, gumamnya dalam hati sambil menekan tombol starter truknya.

Selesai memuat truk dengan ampas tebu dari ladangnya di wilayah Geurugok, Cek Don langsung berangkat menuju Cot Girek. Disana terdapat sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Ampas Tebu yang selalu bersedia menampung ampas tebunya dengan harga yang lumayan tanpa perlu tawar-menawar lagi.

Perjalanan ke Cot Girek ditempuh hanya dalam waktu 20 menit. Terimakasih kepada para endatuyang dulu bersusah payah membangun highway lurus-mulus ini. Bahkan dari Banda Aceh ke Medan sekarang bisa ditempuh hanya dalam waktu 3 jam, dengan kecepatan rata-rata 220 km/jam.

Jika dahulu kala, di masa muda Cek Don, sebelum ada highway, bus-bus besar atau truk-truk tronton harus menggunakan hanya satu-satunya jalur lintas Banda Aceh-Medan yang sempit, yang melintasi kampung-kampung penduduk, harus meuseunoh-seunoh dan berbagi jalan dengan nenek-nenek pejalan kaki, dengan labi-labi, abu-abu pengguna sepeda ontel, anak-anak sekolah, dan lain-lain. Namun alhamdulillah, sekarang jalur tersebut hanya dibolehkan bagi kendaraan-kendaraan jarak pendek, antar kampung antar kecamatan.

Kebun TebuKembali ke ladangnya, Cek Don langsung menjenguk kegiatan di pabrik tebunya. Jangan salah, mereka tidak sedang memproduksi gula, tapi sedang membuat minyak yang namanya bioethanol. Jus tebu hasil perasan itu, diperam lalu diolah dan digunakan sebagai pengganti bensin. Memang ada sebagian kecil tebu hasil dari ladangnya yang dijual kepada toke-toke ie teubee di Lhoksukon, serta kepada pabrik-pabrik pembuat gula di Panton Labu. Namun, bioethanolmerupakan produk andalan ladang Cek Don.

Tahun 2040-an, di Aceh, jangan harap bisa menemukan lagi kenderaan bermotor yang menggunakan bensin atau solar. Di SPBU-SPBU yang tersebar di setiap dusun, hanya tersediabioethanol (pengganti bensin) dan biodiesel (pengganti minyak solar) serta jasa cas baterai bagi mobil-mobil bertenaga listrik (hybrid). Persis seperti di Brazil sana yang sudah merasakannya sejak 1970an.

Bioethanol diperoleh dari hasil jagung, singkong, tebu, dan lain-lain yang diperam, seperti orang membuat tape. Sedangkan biodiesel didapatkan dari perasan sawit, kedelai, kelapa, ganggang, bunga matahari, dan lain sebagainya.

Saking ngetrend-nya penggunaan bioethanol dan biodiesel ini, tak ada lagi lahan-lahan tidur di kampung-kampung Aceh. Setiap orang berlomba bercocok-tanam memproduksi dan berdagang bahan-bahan baku untuk minyak ini di seantero Nanggroe.

Siang hari, Cek Don pulang sebentar ke rumah menemani istri tersayang yang sedang memasak dengan menggunakan kompor listrik. Memang, semua peralatan di rumahnya sudah menggunakan listrik (kompor, mesin pembuat kopi, pemanas air, dan tentu saja AC, kulkas, TV, serta kipas angin). Adapun listrik untuk kebutuhan rumahnya itu dihasilkan dari panel surya(photovoltaik) yang dipasang di atap rumahnya. Produksi listriknya bahkan berlebih, sehingga bisa disuplai untuk PLN. Jadi setiap awal bulan, PLN membayar kepada Cek Don senilai listrik yang yang tertulis di meteran-nya.

Tetangga Cek Don, Apa Ma’e juga seperti itu, setiap bulan mendapat bayaran dari PLN, karena memasang panel surya di atap rumahnya. Seluruh rumah-rumah di Aceh juga begitu, sehingga lebih dari setengah kebutuhan listrik Aceh mampu disuplai dari panel-panel surya milik masyarakat, luarbiasa!. Tapi ah, masih kalah jauh dari Jerman, yang bahkan di masa endatu Cek Don dulu, sekitar 30 tahun lalu, sudah mampu mencapai 70% suplai listriknya dari tenaga matahari. Padahal kebutuhan Jerman puluhan kali lebih besar, sementara kualitas sinar mataharinya berkali-kali lipat lebih jelek daripada di Aceh.

Berbeda dengan Cek Don, Apa Ma’e masih menggunakan kompor gas di rumahnya. Namun jangan fikir gasnya adalah elpiji, melainkan gas hasil dari kotoran beberapa ekor sapi miliknya. Kotoran sapi tersebut ditampung dan diendapkan dalam sebuah lubang tertutup, sehingga gasnya menguap, dan kemudian dipasang pipa agar mengalir ke penampungan dan selanjutnya ke kompor untuk dibakar. Istilah kerennya biogas.

***

Bio Energi_Selama 30 tahun terakhir, Aceh benar-benar membangun, terutama sarana jalan dan listrik. Penduduknya sudah berjumlah 10 juta jiwa, dan seluruh rumah sudah memiliki listrik. Total kapasitas daya seluruh Aceh mencapai 9000 MW. Bandingkan dengan zaman dulu, misalnya sekitar tahun 2014, kapasitas yang ada hanya sebesar 125 MW, kemudian harus ditambah 250 MW listrik kiriman dari Medan. Dan setiap saat bisa terjadi byarr pet.

Dulu, tak perlu jauh-jauh melihat Eropa atau Amerika, dibandingkan dengan Malaysia saja seakan-akan Aceh ini 30 tahun ketinggalan.

Sekarang, semua berubah, Aceh sudah menjadi salah satu pusat energi di Asia Tenggara, listrik dikirim ke negeri-negeri sahabat yang dekat-dekat, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Myanmar, bahkan juga dikirim jauh sampai ke pulau Kalimantan dan Jawa. Langsa dengan Penang (Malaysia) sudah dihubungkan oleh kabel listrik bawah laut, demikian pula antara Samalanga dengan Phuket (Thailand).

Di Sabang, sumber listriknya adalah panas bumi (geothermal) yang berlokasi di Jaboi dan Pria Laot, dikombinasikan dengan sejumlah kincir angin yang dipasang di lepas pantai Pulau Weh. Surplus listriknya bahkan bisa diekspor melalui kabel bawah laut ke Pulau Nicobar yang jaraknya hanya beberapa puluh kilometer dari lokasi kincir angin tersebut.

Demikian pula di Simeulue dan pulau-pulau lainnya, kombinasi panel surya dengan kincir-kincir angin lepas pantai memasok listrik untuk rakyat.

Tidak jauh dari Pinding, tepatnya di Lesten, juga dibangun pembangkit listrik bertenaga panas bumi. Listriknya sebagian dikirim ke Peureulak via Lokop, sebagian lagi langsung ke Blang Kejeren. Demikian pula di Seulawah Agam, terdapat pembangkit listrik bertenaga panas bumi berkapasitas 300 MW.

Lain lagi di Kutacane, sudah dibangun waduk raksasa memanfaatkan aliran Lawe Alas tidak jauh dari Ketambe. Selain berguna untuk mencegah banjir bandang yang dulu rutin terjadi, juga untuk memproduksi listrik, serta airnya dimanfaatkan untuk irigasi. Sekarang petani-petani padi di Lembah Alas dan sekitarnya sudah bisa panen 6 kali dalam setahun.

PLTA lainnya, seperti Peusangan, Jambo Aye, Ramasan, ataupun Tamiang kapasitas totalnya mencapai seribuan Mega Watt.

Di sekitar Kuala Simpang, juga di Jeuram, terdapat sejumlah pembangkit listrik bertenagakan limbah sawit (ampas, cangkang, pelepah, dan lain-lain), yang dimiliki oleh pabrik-pabrik pengolah minyak sawit (CPO) itu. Namun kelebihan listriknya dijual juga ke PLN, dengan bayaran yang sangat menguntungkan.

Petani-petani di kawasan Aceh Rayeuk, Pidie, Pijay, Aceh Barat dan Abdya sekarang memiliki rezeki tambahan dari bercocok tanam bunga matahari, singkong, tebu, kentang, dan kedelai. Hasil-hasil dari pekerjaan sampingan itu tidak untuk dikonsumsi sebagai makanan, melainkan dijual ke pabrik pembuat ethanol, yang menyuplai kebutuhan bahan bakar kenderaan di seluruh Aceh. Bahkan kelebihannya bisa dikapalkan melalui Labuhan Haji sampai ke India, dan melalui Pante Raja sampai ke China.

Bio Energi AlternatifTrumon, Singkil, Sawang, dan Calang sudah menjadi sentra pengolahan ikan terbesar di regional Lautan Hindia, yang produksinya diekspor ke seluruh mancanegara. Sumber listrik untuk industri ini didapat dari sejumlah komplek kincir angin lepas pantai, yang digabung dengan listrik bertenaga gelombang dan arus laut. Pasokannya bahkan mampu melebihi kebutuhan listrik seluruh pesisir pantai barat Aceh, sehingga bisa ditransmisi melalui Sidikalang sampai ke Medan dan Padang sana.

Pembangkit-pembangkit listrik bertenaga diesel (minyak solar) yang sempat setengah abad merajai Aceh sekarang semuanya sudah dimatikan atau dialih-fungsikan.

Untuk transmisi, seluruh Aceh sudah terkoneksi dengan jaringan kabel tegangan tinggi arus searah. Tugas utama PLN sekarang hanyalah merawat dan mengelola jaringan kabel listrik tersebut, termasuk juga mengelola kabel yang bertegangan rendah, serta mengorganisir pihak-pihak yang menyewa dan memanfaatkannya. Sedangkan peyuplai listrik adalah perusahaan-perusahaan swasta, dan yang mendistribusikannya juga adalah sejumlah perusahaan swasta lainnya. Terjadi persaingan bisnis yang sehat, sehingga kualitas pelayanannya sangat memuaskan.

Penambangan minyak bumi, gas alam, dan batubara, termasuk yang di Laweung, Simeulue, Meureubo, dan Kaway XVI, semua sudah total dihentikan, karena tidak diperlukan lagi. Bahkan rakyat Aceh mendapat kompensasi dari dunia internasional karena tidak mengambil kekayaan alam penghasil CO2 tersebut. Kompensasinya adalah senilai keuntungan jika (seandainya) mengeksploitasi bahan bakar fosil tersebut.

Kilang penyulingan minyak di Lhokseumawe sekarang difungsikan hanya untuk memproses minyak mentah yang diimpor dari luar, kemudian hasilnya diekspor lagi ke luar negeri dalam bentuk bensin, diesel, oli, elpiji, dan lain-lainnya.

PLTU bertenaga batu bara seperti yang di Nagan Raya yang dibangun di masa leluhur dulu, sekarang sudah dimodifikasi sehingga bertenaga pelepah sawit, ampas tebu, seukeuem pade, batok kelapa, dan lain-lain yang melimpah ruah tersedia di Aceh. Malah PLTU itu sekarang jauh lebih efektif, karena bahan-bahan bakunya tidak dibakar, tapi dipanaskan beberapa ribu celcius dalam ruangan tertutup tanpa oksigen (gasifikasi), sehingga kandungan energinya benar-benar terekstrak dengan optimal dan menjadi gas sintetik yang bisa untuk menggerakkan generator.

Tidak pernah lagi terdengar kasus-kasus seperti penimbunan atau penyelundupan BBM. Bensin atau solar tidak laku lagi disini. Tidak ada lagi kisruh subsidi BBM atau subsidi listrik. Yang ada malah bonus dari PLN untuk pihak-pihak yang mampu memproduksi listrik dari sumber-sumber terbarukan (non-fosil).

Banda Aceh sudah menjadi kota bisnis yang sangat padat, sehingga harus dibuatkan jalur tram di atas jalan, jalur metro di bawah tanah, serta jalur monorail. Dan semuanya bertenaga listrik. Di seluruh Aceh, sektor transportasi adalah konsumen listrik terbesar, mampu menyerap hingga 45% dari total pemakaian listrik.

Komplek pusat administrasi Aceh sekarang dibangun tidak jauh dari kota Takengon, karena lokasinya yang strategis berada di tengah-tengah Aceh.

Di kota-kota besar lainnya, seperti Beureunuen, Lamno, Idi, Ulee Gle, Isaq, Teunom, Ulim, Seulimuem, Trangon, Trumon, dan lain-lain, bus trolley dan tram listrik melayani kebutuhan transportasi warga kota.

Seiring dengan pengembangan jalan highway yang mengelilingi seluruh pesisir Aceh, juga dibuatkan jalan tembus dengan kualitas hotmix terbaik yang menghubungkan pesisir timur dan barat, menembus gunung-gunung, meloncati jurang-jurang dan melangkahi lembah-lembah, tanpa merusak hutan-hutannya. Sehingga misalnya dari Meureudu ke Lamno bisa langsung ditempuh hanya dalam waktu satu jam. Atau dari Tapaktuan ke Langsa, cukup satu setengah jam, itupun sempat ngopi sebentar di Blang Kejeren.

Bus-bus cepat jarak jauh berukuran jumbo dan bertingkat dua, seperti Brother Pelangi, Cucu Kurnia, Bireuen Ekstra, Planet Simpati, dan lain-lain, melayani jalur-jalur tersebut,  semuanya bertenagakan listrik, bioethanol, atau biodiesel. Sungguh mewah dan nyaman. Memang, di dunia ini, hanya bus-bus di negeri Turki yang mampu mengungguli kehebatan bus orang Aceh.

Jalan-jalan highway itu memiliki 6 jalur, 3 di kanan dan 3 di kiri, dan diterangi oleh lampu bertenaga matahari yang bisa hidup sendiri jika hari mulai gelap. Bahkan seluruh jalan di Aceh, kecil maupun besar, di pelosok-pelosok, di persimpangan di kampung-kampung semuanya sudah menggunakan lampu jenis ini.

Sejajar dengan semua jalur highway itu juga telah dibangun jalur-jalur kereta api listrik yang kecepatannya mencapai hanya 400 km/jam,  ya… masih kalah jauh dengan kereta api ShinkansenJepang atau ICE Jerman yang sudah mampu mencapai setengah kecepatan suara. Namun setidaknya, dari Bireuen ke Subulussalam misalnya, cukuplah ditempuh hanya dalam waktu satu jam setengah saja dengan kereta listrik itu.

Karena hawa panas di dalam kamarnya, tiba-tiba Cek Don terbangun dari tidur dan tersadar dari mimpi cot uroe timang-nya, ternyata kipas angin pusakanya mati, dicoba hidupkan kembali, namun sialnya sedang mati lampu. “Nyan keuh lagee nyoe, seumpat Aceh mardeka, jadeh hana listrek ban saboh nanggroe!” gumamnya. Diliriknya kalender yang tergantung di dinding, tertulis 31 Agustus 2013.

Semua berawal dari mimpi.

Dan bukan tidak mungkin untuk merealisasikan mimpi Cek Don tersebut, apalagi dengan melimpahnya potensi sumber daya yang tersedia, dan didukung pula oleh visi-visi progressif dari para pembuat kebijakan dan seluruh elemen masyarakat di masa penuh kedamaian ini.Salam terbaik untuk Aceh.

Penulis [T. Faisal MG]
Anggota Masyarakat Energi Terbarukan Aceh (META)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s